Tiga Kasus Penipuan Legendaris yang Dilakukan Startup

Penipuan Startup

Tiga Kasus Penipuan Legendaris yang Dilakukan Startup

Setiap bisnis pasti dilakukan untuk memberikan keuntungan kepada tiga pihak, yakni pemiliknya, investornya, dan konsumennya. Namun, bagaimana jika suatu bisnis dilakukan semata-mata demi keuntungan pemiliknya secara instan?

Karena haus akan kekuasaan dan harta, banyak pemilik bisnis menempuh cara-cara yang tidak bermoral, bahkan ilegal demi keuntungan dirinya sendiri melalui bisnis yang ia jalankan. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan menipu investor dan konsumen produk mereka.

Gear Up telah mengkompilasikan tiga kasus penipuan legendaris yang dilakukan oleh bisnis startup dengan harapan agar praktik tersebut tidak kembali terulang pada masa yang akan datang.

Tiga Kasus Penipuan yang Dilakukan Startup

Theranos

1. Theranos: Penipuan Startup Kesehatan

Theranos adalah startup dalam bidang kesehatan yang menawarkan produk revolusioner: dengan alat pengecekan darah Edison, Theranos mengklaim bahwa mereka telah menciptakan teknologi yang memungkinkan pengecekan pasien secara instan melalui setetes darah. Jika terealisasi, hal tersebut merupakan terobosan baru dalam dunia kesehatan karena selama ini pengecekan darah harus dilakukan melalui pengambilan uji laboratorium dalam waktu yang tidak sedikit.

Masalahnya, klaim yang dikemukakan Elizabeth Holmes, CEO Theranos, itu adalah kebohongan belaka. Alat uji Edison yang dikembangkan Theranos benar-benar jauh dari kata akurat. Lalu, hasil tes darah valid yang diklaim sebagai “hasil uji Edison” pada kenyataannya diambil melalui uji laboratorium biasa. Dr. Phyllis Gardner, profesor kesehatan Universitas Stanford University pun melihat bahwa data dari alat Edison milik Theranos akan jauh dari valid.

Dampaknya, setelah investigasi dijalankan oleh otoritas terkait, Elizabeth Holmes dikenai tuduhan penipuan oleh Departemen Kehakiman AS pada 2018. Pada tahun yang sama, Theranos juga mengumumkan akan membubarkan diri. Hingga hari ini, proses pengadilan masih berlanjut dan Elizabeth Holmes sendiri terancam denda $2 juta dan 20 tahun penjara.

Nikola

2. Nikola: Penipuan Startup Otomotif

Startup otomotif pimpinan Trevor Milton ini pada awalnya menjanjikan akan menciptakan produk yang revolusioner dalam bidang otomotif: mereka akan menciptakan truk yang digerakkan oleh energi hijau dan terbarukan, seperti hidrogen. Dengan janji tersebut, banyak investor segera tertarik menanamkan modalnya di perusahaan tersebut, termasuk General Motors yang menanamkan $2 milyar.

Namun, laporan media Hindenburg Research mengekspos penipuan yang dilakukan Nikola. Laporan tersebut menyatakan bahwa Nikola memalsukan seluruh teknologi yang dimilikinya. Bahkan, video promosi truk Nikola sebenarnya dilakukan dengan menurunkan truk tersebut dari bukit agar truk tersebut terlihat berjalan dengan baik.

Dampaknya, Trevor Milton mundur dari Nikola meski mengklaim tidak ada penipuan yang terjadi. Apa pun itu, Nikola menjadi contoh nyata mengenai penipuan startup yang mengkhianati investornya.

Bus Layang China

3. Bus Layang di China

Pada 2016, China pernah menghebohkan jagat transportasi ketika salah satu perusahaan di negeri itu memperkenalkan Transit Elevated Bus (TEB), kendaraan transportasi umum bertenaga listrik yang mampu mengangkut penumpang di tingkat atas sembari membuka ruang bagi kendaraan pribadi di tingkat bawah. Diperkirakan, moda transportasi tersebut akan mampu mengangkut 1.200 penumpang.

Namun, setelah uji coba pertama, TEB tidak pernah digunakan lagi hingga pada akhirnya kepolisian setempat membuka investigasi penipuan terhadap perusahaan penyelenggaranya, Huaying Kailai. Investigasi tersebut juga diiringi fakta bahwa perusahaan pendesain bus layang, Autek, belum mendapatkan bayaran terhadap proyek bus tersebut. Pada akhirnya, 30 orang diamankan kepolisian, termasuk CEO dari TEB Technology Development yang memegang paten bus layang tersebut.

Jadilah Startup yang Bertanggung Jawab

Penipuan yang dilakukan startup datang dari ambisi buruk pemimpinnya yang haus akan harta. Padahal, startup yang baik harus dibuat dengan penuh rasa tanggung jawab, baik terhadap tujuan, investor, dan konsumennya. Agar startup Anda dapat menjadi startup yang bertanggung jawab, Gear Up dapat membantu Anda.

Gear Up merupakan partner brainstorming startup yang akan memberikan berbagai pengetahuan dan pengalaman yang akan berguna bagi pertumbuhan startup Anda. Dengan program brainstorming 1-on-1 selama 50 minggu, Gear Up akan menyediakan berbagai pelatihan bagi pengembangan startup dan diri Anda, termasuk menumbuhkan tanggung jawab dalam berbisnis.

× Contact Us