Startup Indonesia Terkena Bubble Burst? Terus Bagaimana?

Bubble Burst

Startup Indonesia Terkena Bubble Burst? Terus Bagaimana?

Kabar startup siang ini menyambar keras bak petir di siang: sejumlah startup ternama di Indonesia melakukan layoff atau pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan karyawannya. Sebagai contoh, startup pendidikan ternama Zenius diketahui melakukan layoff terhadap lebih dari 200 karyawan. Hal serupa juga dialami oleh JD.ID, SiCepat, dan LinkAja.

Layoff besar-besaran yang mendadak ini menjadi alarm besar bagi dinamika startup di Indonesia. Berbagai pihak waswas akan apa yang dapat terjadi setelah tumbangnya empat startup yang dihitung sebagai startup besar di Indonesia. Bahkan, sejumlah pihak menyebut startup di Indonesia mengalami bubble burst.

Anda mungkin termasuk salah satu dari orang yang entah panik karena ada histeria bubble burst atau bingung dengan apa yang terjadi dengan startup di Indonesia. Karena itu, kami akan membahas fenomena yang terjadi di startup Indonesia akhir-akhir ini.

Bubble Burst, Apa Itu?

Fenomena bubble burst dapat ditarik dari kondisi yang disebut economic bubble, yaitu peningkatan nilai pasar suatu aset di atas nilai yang sewajarnya dimiliki oleh aset tersebut. Sebagai contoh, suatu rumah yang sewajarnya berharga Rp1 miliar rupiah dihargai Rp4 miliar. Ketika pasar telah kehilangan kepercayaan terhadap harga yang ada, terjadi penurunan nilai pasar besar-besaran sehingga harga aset tersebut jatuh ke titik awal. Penurunan nilai inilah yang disebut bubble burst—selayaknya gelembung yang terus membesar, akan ada masa ketika gelembung tersebut pecah.

Fenomena tersebut juga dapat terjadi dalam ranah investasi: investor cenderung berinvestasi ke bisnis tertentu yang menjanjikan. Kondisi yang menjanjikan tersebut kemudian mengundang spekulasi ekstrem sehingga mendorong ramainya investasi, otomatis mendorong masuknya banyak pihak ke bisnis tersebut. Ketika keuntungan bisnis tersebut tidak sebesar yang diperkirakan, investor beramai-ramai menarik investasinya dan menumbangkan sektor bisnis tersebut.

Kok Bisa Startup di Indonesia Tumbang?

Nah, fenomena serupa ketika penarikan investasi yang menumbangkan bisnis itu juga terjadi di Indonesia, salah satunya seperti yang terjadi akhir-akhir ini di bidang startup. Pada dekade 2010-an, banyak investor venture capital (VC) yang mulai berinvestasi dalam startup yang mengusung penggunaan teknologi digital, seperti e-commerce, mengingat penggunaan teknologi digital yang makin meningkat pada era kontemporer. Tren tersebut kemudian mengundang spekulasi yang mendorong investasi lebih banyak ke startup digital. Namun, pada 2022, inflasi global yang masif mendorong peningkatan suku bunga AS sehingga investasi menjadi berkurang karena investor lebih memilih untuk menyimpan uangnya di bank.

Penarikan investasi tersebut juga didorong oleh faktor lain: strategi bakar uang. Dengan strategi ini, startup di Indonesia cenderung melakukan pengeluaran jor-joran untuk promosi, dari iklan hingga promo, demi menggaet lebih banyak konsumen meskipun harus mengorbankan defisit bisnis besar-besaran. Praktik ini cenderung “dimaklumi” investor VC selama ini karena faktor spekulasi membuat investor dapat menutupi defisit tersebut. Namun, begitu terjadi kenaikan suku bunga, praktik bisnis ini menjadi daya tolak nomor satu investor karena dianggap tidak menguntungkan. Dampaknya jelas: banyak startup tumbang.

Beneran Kena Bubble Burst, Nih?

Meskipun banyak yang menganggap fenomena layoff yang dialami oleh startup di Indonesia adalah bubble burst, sejumlah pihak melihat hal tersebut adalah hal yang wajar dalam dunia bisnis.

Bagi eks-Menkominfo Rudiantara, fenomena yang ada cukup dianggap sebagai atau letupan kegagalan digital sturtup yang biasa. Menurutnya, 90 persen startup digital cenderung rontok saat berumur lebih dari lima tahun.

Meskipun demikian, Rudiantara juga menyoroti perubahan tren investor: Ketika dahulu investor fokus kepada traction (jumlah pengunduh aplikasi dan jumlah transaksi alias bakar uang), sekarang investor berfokus kepada menjadi EBITDA (pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) atau road to profitability. Dampaknya, investor menjadi lebih selektif dalam berinvestasi di startup.

Startup Harus Bagaimana?

Apapun yang terjadi, fenomena layoff di kalangan startup Indonesia mengingatkan bahwa risiko bubble burst dalam ekonomi adalah hal yang nyata. Tiap startup memang harus mampu memitigasi kerugian dalam bisnisnya, seperti dengan menghentikan strategi bakar uang, agar mampu beradaptasi dengan situasi krisis seperti saat ini, tetapi pasti banyak cara-cara lain yang dapat ditempuh untuk meningkatkan ketahanan dalam menghadapi dinamika pasar.

Karena itu, Gear Up akan menjadi partner yang cocok untuk persiapan bisnis startup Anda secara menyeluruh, termasuk dalam menghadapi segala risiko bisnis seperti bubble burst. Dengan program 1-on-1 startup brainstorming selama 50 minggu, Gear Up akan memberikan informasi, materi, dan edukasi yang berguna bagi bisnis startup Anda, termasuk hal-hal mengenai risiko bisnis. Dengan demikian, startup Anda akan mampu menghadapi setiap halang rintang dalam dinamika bisnis sehingga mampu berkembang lebih jauh lagi ke depannya!

Persiapkan dirimu, jadikan Gear Up partnermu!

× Contact Us